Monday, January 19, 2009

cinta putih


Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina.

Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku.

Masihlah panjang jalan hidup yang mesti ditempuh.

Semoga tak lekang oleh waktu.

Jika kau bertanya, sejauh mana cinta membuat bahagia.

Sepenuhnya trimalah apa adanya dua beda menyatu.

Saling mengisi, tanpa pernah mengekang diri.

Jadikan percaya yang utama.

(Cukup bagiku hadirmu, membawa cinta selalu.

Lewat warna sikap, kasih pun kau ungkap).


(Kla Project, Maret 1988)


Saya menemukan kumpulan lirik lagu yang dibuat oleh Katon untuk Kla di rak buku saya. Saya tertawa waktu membacanya lagi. Saya ingat, bertahuntahun lalu saya menyalin lirik ini, mencetak, dan membaginya ke kawankawan saya bersama dengan puisi Neruda. Bertahuntahun lalu, lirik ini didedikasikan untuk tukang potret tua nan usang itu—yang harihari belakangan ini ada di situs pertemanan populer itu, dan saya tertawa girang dengan VOILA! terang benderang di atas kepala, lantas terkekehkekeh sendiri. Terima kasih pada teknologi memang.


Cinta putih, eh ka? Iya.


18.01.09, 23.37...





mawar gunung dan beberapa cerita lainnya

Saya sedang menyukai beberapa orang sekaligus. Beberapa orang ini tidak banyak sebenarnya. Hanya sedikit. Oke, taruhlah empat orang. Tiga orang lakilaki dan seorang perempuan. Manusia harimau yang sudah meninggalkan taman bermain itu, manusia undurundur dengan ratusan harem, manusia ganteng depan rumah—yang setiap pagi saya selalu mengintip melalui jendela rumah siput saya untuk melihat apakah dia ada di depan rumahnya, dan yang terakhir perempuan manis mawar gunung—pujaan hati seorang kawan baik saya.


Saya mulai dari si mawar gunung manis. Saya menyukainya semenjak pertama kali bertemu dengan dia. Duapuluh empat tahun, rambut sebahu, lurus—tadi hanya diikat ekor kuda, pipi nyempluk, kaos, dan jeans. Tidak lupa sneakers. Dia memakai kacamata. Coklat dan dia cantik sekali dengan itu. Saya gila mungkin, tapi tidak. Saya merasa baikbaik saja dengan menyukainya. Kawan saya yang menggilainya setengah mampus itu sering menceritakan mawar gunung itu kepada saya, dan ketika bertemu secara langsung, saya sudah sangat familiar dan merasa tidak berjarak. Dan seperti yang saya bilang, begitu melihatnya, saya suka sekali. Saya bahkan bisa mengingat detail dia tertawa, warna bajunya, tinggi tubuhnya; pendek kata semuanya. Ia pernah bercerita bahwa ia pernah sampai ke Flores untuk menjadi relawan pendidikan sebuah lembaga pendidikan alternatif. Ia bercerita dengan mata berbinar bagaimana ia menyeberangi pulau hanya dengan perahu di tengah ombak pasang dan mengajar anakanak di sana. Bukan perempuan sembarangan agaknya. Anggap saya. Paling tidak bukan perempuan menyemenye begitu saja. Ketika berangkat tadi pagi, saya mengatakan kepada diri saya bahwa saya akan bertemu dengan dia dan saya mau memandangnya, mencari sesuatu dalam dirinya. Dan saya melakukan itu. Saya bertanya kepada diri saya mengapa saya menyukainya. Mengapa saya seolah tertarik mendekat kepadanya, apa yang saya cari sebenarnya dalam dirinya?


Apa yang saya rasakan terhadap si mawar gunung ini terlalu prematur jika disebut sebagai sebuah perasaan “yang lebih dalam”. Bagi saya ini hanyalah sebuah ketertarikan saja. Tidak lebih dari itu. Ada semacam keinginan mencari diri saya di dalam sana. Karena somehow, someway saya merasa ia adalah gambaran diri saya bertahun lampau tapi dalam cover version yang lebih baik—hahaha!!! Mungkin itu yang membuat saya merasa dekat dengannya. Merasa ingin mengetahui dirinya lebih lanjut, meski saya sebagian sudah tahu dari kawan baik saya itu. Dan saya gembira saya punya kesempatan untuk mengenalnya lebih dalam lagi karena ia berproses juga dalam taman bermain dimana saya juga terlibat di situ.


Ini sebuah perasaan yang aneh. Sesuatu yang baru. Dan saya suka dengan perasaan ini. Seperti memberi daya hidup baru. Daya hidup yang membuat saya bersemangat. Tapi saya tidak menandaknandak riang begitu, bukan jamannya lagi. Saya menikmatinya dalam diam. Rasa itu sendiri halus dan ringan dan tidak membebani saya.


Kemudian orang kedua: manusia harimau. Orang lama, tapi hanya berani mengendapendap tanpa pernah berani mengejar dan menerkam. Ia sudah pergi. Tidak ada kesedihan. Karena memang tidak perlu itu. Toh saya punya keyakinan kalau kami akan bertemu suatu saat. Mungkin jika waktunya sudah tepat. Saat ini saya tidak terlalu ambil pusing dengan dirinya. Saya membebaskan diri saya untuk tidak berharap kepadanya. Untuk tidak mengharapkan gayung saya bersambut kepadanya. Dulu sekali, saya suka sekali padanya, tapi agaknya waktu dan peristiwa telah mengubah saya menjadi lebih tenang dan cenderung tidak peduli seperti saat ini. Saya menikmati permainan tarik ulur dengannya kemarinkemarin itu, tapi memang layanglayang agaknya memang harus dilepaskan bukan? Saya juga tahu itu. Sudah selesai. Maka ketika ia menyapa saya di sebuah situs pertemanan paling populer saat ini beberapa hari lalu, saya hanya tertawa. Basi.


Membicarakan perasaan saya kepadanya adalah hal yang lucu. Perasaan saya terhadapnya seperti layanglayang: kadang mendekat, kadang menjauh. Hari ini bisa mengobrol dengan benarbenar enak, besok seperti orang yang tidak saling kenal. Selalu seperti itu. Mendekat, menjauh. Tertawa lantas mencibir. Perasaan seperti layanglayang ini ternyata sangat melelahkan, dan akhirnya saat “melambaikan tangan selamat tinggal” datang juga. Saya melanjutkan hidup saya. Tapi ketika saya bertanya kepada diri saya, apakah saya pernah menginginkannya; saya menjawabnya dengan “ya”. Tidak dengan amat sangat memang, tapi saya menginginkannya. Saya pernah menaruh harap kepadanya. Pernah merasakan kupukupu dalam perut saya karena dia. Pernah dengan berdebar dan terkagetkaget dengan sikapnya. Dan pernah cukup bodoh mengirimkan sebuah pesan bahwa saya pasti kehilangan dia ketika ia akan pergi dari taman bermain kami itu. Dan tangan saya gatal untuk selalu mengecek keberadaannya lewat situs pertemanan yang populer itu. Sebuah tindakan yang sama sekali tidak direkomendasikan dan rentan menimbulkan kecanduan yang pada akhirnya akan merugikan diri saya sendiri.


Manusia ketiga: manusia ganteng depan rumah. Anak muda yang menurut saya banyak perempuan cantik dan tidak cantik berderet minta dipacari. Dia, apa yang bisa saya bilang mengenai dia selain dia ganteng—tidak banyak laki-laki yang saya sebut ganteng, adalah hawa yang hampir sama yang dibawanya dengan tukang potret lembaran usang masa lampau itu. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai kepada kesimpulan itu, tapi saya bisa merasakan itu. Maka saya hanya bisa tertawa demi kebiasaan baru saya setiap pagi sekarang: membuka jendela lebarlebar dan menatap pintu rumah sebelah, mengharapkan dia keluar. Hina memang. Dan saya terbahak karenanya. Hina dina untuk model yang seperti ini tapi saya menikmatinya. Perasaan yang usang dan tersampir entah kemana itu kembali. Sesuatu yang kecil bangkit dalam diri saya. Dan itu membuat saya gelenggeleng kepala. Saya mengangeni hal yang hina dan remeh seperti ini agaknya. Kehebohan menyapa dengan riang demi melihat si ganteng itu muncul dan menyiapkan senyum manis, serta mencari pembicaraan.


Manusia keempat: manusia undurundur dengan ratusan harem. ha! Dia; saya hanya bisa tertawa kalau mengingat dia. Semakin hari, saya semakin respek kepadanya. Caranya menenangkan semua haremnya itu, memberikan telinga untuk mendengar, juga sikapnya yang bagi saya pragmatis tapi entah kenapa justru malah memberikan jalan keluar yang cespleng untuk setiap persoalan yang dihadapi para haremnya atau saya sebagai rekannya di taman bermain kami itu. Dia, yang dulu saya pandang sebagai biasa saja, tapi malah tidak biasa ternyata. Semua hal memang tidak seperti yang terlihat pada awalnya bukan? Saya tahu kami menjadi dekat tapi tidak cukup dekat untuk bisa saling nyaman mengobrolkan halhal pribadi. Tapi itu tidak terlalu penting, saya akan sampai ke sana jika waktunya tiba. Saya sudah cukup senang dengan kedekatan kami ini. Cukup senang ketika saya mulai mengenali bau rokok dan sabun dari tubuhnya. Itu mengganggu saya, tapi saya suka bau itu. Tertawatawa tidak jelas, guyonan ngawur, senyuman mengembang; itu semua cukup untuk saya.


Lalu bagaimana dengan perasaan dan rasa yang lebih dalam? Tidak ada. Hanya sebatas itu. Hanya suka. That’s it, that’s all. Ça suffit. Tidak ada yang perlu dilanjutkan mengingat akhirakhir ini saya enggan untuk terlibat mendalam dengan perasaan seperti itu. Bukan apaapa, hanya tidak mau repot saja dengan segala hal naik turun, roller coaster. Saya tidak siap dengan emosi yang naik turun, merasakan hentakan menyenangkan pada awalnya untuk kemudian dihempaskan begitu saja, kemudian naik lagi. Sekali lagi saya tidak siap. Itu sebuah pertaruhan yang tidak mainmain untuk saya. Saya mungkin masuk ke episode hibernasi. Tertidur panjang untuk beberapa saat yang tidak diketahui. Banyak hal yang saat ini menarik perhatian saya. Halhal yang mungkin tidak akan sempat saya pikirkan jika saya mendalami perasaan mendalam seperti yang saya sebutkan tadi. Dalam daftar yang akan saya kerjakan tahun ini, tidak ada daftar untuk berpasangan. Entah saya takut, atau malas, atau tidak mau mencoba, atau apalah terserah—saya tidak memasukan itu dalam daftar saya.


Orangorang tadi hadir dengan warnanya masingmasing dalam diri saya. Memberi saya semacam daya hidup yang membuat saya memperhatikan mereka, dan mencabut saya sedikit demi sedikit dari adiksi saya terhadap episode yang telah lalu itu. Mereka menawarkan halhal baru. Kisahan baru, dimana saya bisa belajar banyak di dalamnya. Tidak ada banyak harapan yang saya tanamkan atas kehadiran mereka, atau mungkin memang tidak ada sesuatu pun yang bisa saya harapkan. Belajar dari pengalaman. Ada atau tidaknya harapan tidak menghentikan saya. Ya.


I recommend biting off more than you can chew to anyone

I certainly do

I recommend sticking your foot in your mouth at anytime

Feel free

Throw it down (the caution blocks you from the wind)

Hold it up (to the rays)

You wait and see when the smoke clears

You live you learn

You love you learn

You cry you learn

You lose you learn

You bleed you learn

You scream you learn

(you learn, alanis morissette)


18.01.09, 23.26...


broken flowers

: Pe


beberapa hari yang lalu seorang kawan baik datang dengan mata sembab berurai air mata. Luka menganga, hati koyak, dan setangkai mawar hitam di tangannya. Ia menangis dan terus bertanya kepada saya mengapa semua terjadi padanya. Mengapa semua lakilaki yang datang padanya hanya ingin berakhir di tempat tidur? Saya diam tidak mampu mengatakan apaapa. Saya hanya memeluknya erat dan mencium rambutnya. Saya tidak tahu mengapa demikian. Kemudian berkata lagi, apakah ia punya potongan perempuan yang bakal membuka kutang di depan semua lakilaki dan mengumbar semuanya. Saya kelu. Saya tidak pernah mampu dan tidak mau mengatakan jutaan kata penenang. Itu hanya candu. Saya juga tidak tega untuk mengatakan: hadapi itu dan jangan pernah memalingkan wajah sedikitpun dari kenyataan itu. Hadapi dengan mata terbuka. Tidak ada cukup candu untuk menenangkan hati dan menyembuhkan luka.

Saya tidak pernah tahu bagaimana caranya menyembuhkan diri dari luka semacam yang dialami oleh kawan saya itu. Yang saya tahu itu butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mengering total dan hanya goresan bekasnya saja yang terlihat. proses menuju ke sana tidak akan pernah mudah. Tapi saya yakin ia bisa. Dengan berderaiderai dan berdarahdarah—itu pasti. Seperti yang ia katakan sendiri, suatu saat ia akan mengangkat kepala dan sembuh.

Setelah ia pergi, saya memikirkan semua pertanyaannya itu. Mengapa harus aku ka? Mengapa seperti ini lagi? Salahku apa? Aku bukan perempuan baikbaik ya karena mereka semua ingin tidur denganku? Aku ingin dicintai dan diperlakukan dengan selayaknya. Saya menghela napas panjang. Saya paham perasaan seperti itu. Mengerti. Keinginan dan ekspektasi untuk diinginkan oleh seorang yang diinginkan, begitu jelasnya. Mengapa begitu susahnya untuk membuat orang yang dicintai mengerti mengenai hal itu? Karena orang yang dicintai itu juga meminta untuk dimengerti. Ha! Lingkaran setan. Jalan terbaik memang seperti ini: berlalulah dari pintu yang hanya membuka dengan setengah hati.

Perasaan diinginkan dan dicintai memang candu luar biasa. Agaknya itu adalah akarnya. Untuk kawan saya, kasus yang paling jelas. Untuk saya juga. Dalam kasus saya: seumur hidup saya berusaha menjadi seseorang yang dicintai. Dengan cara apapun. Berusaha merebut perhatian orang sebisabisanya. Berusaha menjadi mawar merah yang diinginkan dan dicintai setiap orang. Hanya sialnya, saya tidak pernah mampu merebut perhatian dari semua orang yang saya harap mencintai saya dengan apa adanya. Saya tidak tahu bagaimana caranya menjadi mawar merah. Pathetic. Saya ingin dicintai, tapi saya tidak tahu bagaimana cara memintanya dan lebih tepatnya, saya tidak punya kemampuan untuk meminta untuk dicintai. Dan saat ini saya sudah berhenti untuk berusaha. Saya tidak pernah berusaha lagi. Saya tidak lagi berusaha untuk menjadi mawar merah yang dicintai setiap orang. Mawar hitam tidak akan pernah menjadi mawar merah. Kalaulah mawar hitam tidak diinginkan, ia masih tetap hidup bukan? Setahun yang lalu, saya pikir saya ditinggalkan karena saya ini hanyalah mawar hitam. Tetapi bukan itu ternyata. Tidak ada yang salah dengan mawar hitam. Saya hanya tidak beruntung. Tapi lalu bagaimana dengan kawan saya itu, apakah ia selalu tidak beruntung? Tidak adil mengatakan demikian. Mengapa luka yang sama terjadi? Tidak ada jawaban yang mudah untuk hal itu. Sama halnya ketika seorang kawan bertanya kepada saya tentang seseorang yang selalu lurus, yang selalu memajang fotofotonya yang bercerita mengenai pacarnya, kisah jalanjalannya, seolah tanpa beban. Tidak ada jawaban untuk itu juga. Saya tidak mengerti mengapa bisa demikian. Keseimbangan dunia mungkin? Entahlah.

“Butuh waktu sepuluh tahun untuk bisa menceritakan sebuah peristiwa luka, dengan berjarak dan memandangnya dengan tenang” saya menemukan kata-kata ini di sebuah review yang saya baca di sebuah situs film. saya setuju sepenuhnya mengenai itu. Butuh waktu yang lama memang untuk bisa memandang sebuah luka dalam bentuk yang berbeda. Memandang sebuah peristiwa menyakitkan sebagai sebuah sejarah yang tidak hendak ditutup atau dimusnahkan begitu saja. Sebagai sebuah bagian dari diri. Dalam bentuk yang tenang tanpa badai kemarahan yang menggila lagi. Ini untuk luka apapun. Semua luka membutuhkan waktu untuk sembuh, atau mungkin sembuh bukan kata yang menarik bagi saya untuk dilekatkan di sini—tapi bolehlah. Untuk sekedar mengering beberapa lama. Dan mungkin siap untuk dilukai lagi. Seorang kawan dalam blognya menuliskan bahwa sebuah luka diberi salep, mengering, sembuh, kemudian siap dilukai lagi. Demikian berulang. Bukankah memang demikian hidup itu? Oh sial! Tidak ada bedanya dengan Sisiphus memang. Kata seorang kawan lain—yang saya selalu salut oleh persediaan kata bijaknya yang tidak pernah habis—bukankah kepahitan itu dipersiapkan untuk menyembuhkan luka? Ah iya memang, tapi entah kenapa hambar rasanya.

Dalam cara pandang saya yang semakin hari semakin skpetis dan minor ini, kata-kata seperti itu tidak ada gunanya. Dulu saya mempercayai kata-kata seperti itu. Tapi entah belakangan ini saya seperti dirombak ulang, meminjam istilah Derrida, saya didekonstruksi. Banyak hal berjungkir balik dalam diri saya. Entah apa yang saya pegang saat ini. Yang jelas bukan sekumpulan kata bijak lagi yang saya pegang. Saya lelah memegang kata-kata: “pasti ada jawabannya ka.” Tidak ada kok ternyata. Mungkin memang saya tidak sabar. Kesabaran ada batasnya bukan? Dan saya tidak mau bersabar lagi. Saya tidak mau menggantungkan penghiburan pada kata-kata bijak lagi. Saya hanya mau memandang semua yang terjadi dengan tanpa perasaan apa-apa. Mungkin memang saya sudah tidak mau melekatkan diri pada emosi naik turun seperti itu meski kadang kala rindu juga untuk merasakan itu. Saya enggan terlibat lagi. Paling tidak untuk beberapa saat ini. Dan saat ini saya sudah bisa mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa luka saya sudah mengering. Butuh waktu satu tahun untuk bisa sampai di sini. Dan saya lega sudah bisa melaluinya. Saya tidak tahu apa, siapa, yang akan bertemu dan saya temui di masa mendatang. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya siap dengan itu. Siap atau tidak, masa depan akan datang. Saya tidak terlalu peduli lagi. Saya ingat kata tokoh yang diperankan oleh Bill Murray di Broken Flowers—saya lupa namanya, “masa lalu ada di belakang kita dan tidak ada di sini. Masa depan belum hadir dan kita tidak tahu seperti apa. Yang ada sekarang bersamaku, ya ini, masa sekarang.” Ya. Masa kini adalah sekarang. Hadapi. Saya berusaha sedikit demi sedikit melepaskan beban, harapan, ekspektasi, apapun. Kalau saya mawar hitam dan tidak diinginkan, lalu kenapa? Saya menerimanya. Tidak ada yang salah dengan menjadi mawar hitam.

Yang datang, yang pergi, terjadilah demikian...

18.01.09, 23.02...