Sunday, November 6, 2011

mirror has two faces

Elida. Dia menjadi semacam kenangan yang sangat mendalam dalam ingatan saya. Semacam hantu kalau boleh saya bilang. Dia ada dalam setiap langkah saya sekarang ini. Mungkin saya gila memang karena saya merasa dia tidak pernah jauh sekarang. Tidak akan pernah.

Hubungan kami bukanlah hubungan yang selalu penuh tawa. Hubungan kami sering terbangun dalam diam. Diam yang menurut saya malah dapat bercerita banyak. Mungkin memang begitulah cara kami berkomunikasi satu sama lain. Begitu pula yang saya yakini sekarang.

Ketika melihatnya koma, saya tahu bahwa kami tidak akan pernah bicara secara fisik lagi. Saya tahu. Saya tahu bahwa memang dia akan pergi, dan tetap saja saya menangis ketika hal itu terjadi. Sampai saat ini saya malah merasa dia semakin hidup. Hidup dengan cara yang berbeda. Bukan secara fisik lagi, tapi jauh melebihi batasan itu. Dan, sekali lagi kami berkomunikasi dalam diam seperti ini.

Hubungan kami boleh dibilang iberdarah-darah dalam setahun belakangan ini. Kami berpisah karena sebuah sebab yang menurut saya sudah melampaui ambang batas kesabaran dan toleransi saya. Saya meninggalkannya. Ya, saya sadar itu. Dan saya tidak pernah menyesali keputusan itu karena saya merasa dia harus belajar banyak untuk mendengar kata “tidak” dan tidak menganggap bahwa kata “tidak” berarti dengan tidak sayang padanya. Maafkan saya karena tidak pernah mencabut keputusan itu. Saya belajar untuk patah hati, diapun belajar untuk menerima ini. Kalaupun ada hal yang sangat saya sesali adalah bahwa kami belum sempat bicara untuk menguraikan semua simpul ini dan saling membasuh luka, untuk kemudian berjalan kembali. Kadang, pikir saya, memang kita saling melukai untuk belajar bahwa kita juga akan saling menyembuhkan, tidak peduli bagaimanapun caranya dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Saya mengenalnya suatu waktu, di suatu peristiwa, di kampus kami. Dulu. Saya mengingat pertemuan pertama kami itu sebagai titik yang mengubah saya, mungkin tanpa saya sadari. Dia, waktu itu, duduk membaca buku Doa Sang Katak; dan saya dengan yakinnya berkata padanya bahwa buku itu bagus. Oh, saya ingat wajahnya kala itu hahahhaha!!! Saya masih ingat itu. Waktu ternyata memang pada akhirnya mendekatkan kami. Menempatkan kami dalam sebuah proses bersama yang panjang. Sebuah proses yang memiliki ceritanya sendiri. Proses yang membuat saya tidak akan pernah lagi sama seperti sebelumnya. Membuat saya berjalan melewati batas saya dan saya tahu bahwa saya tahu bahwa saya bisa. Proses yang saya alami adalah sebuah proses yang menyenangkan, tapi pada akhirnya saya sadar bahwa itu sangat melelahkan dan menghabiskan seluruh energi saya. Dan, membuat saya merumuskan kembali semuanya.

Berproses dengannya, hidup bersamanya, masuk ke dalam hidupnya—meski saya tidak pernah yakin bahwa ia sebenarnya mengijinkan orang untuk masuk ke dalam dirinya—membuat saya sedikit demi sedikit memahami dirinya. Kegilaannya, kecerdasannya, rasa sayangnya yang besar terhadap teman-temannya, cita-citanya, mimpinya, Kinoki, film-film kesukaannya—ia suka sekali Priscilla Queen of The Dessert—neurotiknya, hingga kekecewaannya terhadap hidup yang dijalaninya. Semuanya. Puncak pemahaman saya akan dirinya justru pada saat ia terbaring dalam peti matinya, memakai semua baju yang selama hidup tidak akan pernah disentuhnya. Pemahaman saya bahwa pada akhirnya saya memang sangat mencintainya, utuh, adalah ketika petinya ditutup dan ia masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke bandara. Saya melihatnya lengkap sebagai seorang manusia. Cermin dengan berbagai wajah. Saya melihat semua wajahnya di wajah setiap orang yang datang. Dia ada di sana.

Saya kehilangan dia, sangat. Saya kangen sekali padanya, memang. Kangen pada obrolan kami di meja besar di tengah malam hingga dini hari dengan pekerjaan di depan mata. Tapi, tidak ada waktu lebih banyak lagi untuk bersedih, tidak ada banyak air mata lagi untuk ditumpahkan. Sudah. Saya memutuskan untuk berkemas dan melanjutkan hidup. Sejak setahun lalu.

So long Da, terima kasih.. sampai berjumpa lagi.. love you always..

Saturday, July 17, 2010

today

manusia undurundur,

saya berusaha mempertahankanmu. tanpa harapan apapun. yang saya tahu, mungkin ini kesempatan untuk keluar dari "kubu penjahat" yang saya punya itu. saya hanya ingin mencoba saja. entah kelak pada akhirnya saya akan berkeping-keping. paling tidak, saat ini saya mau ini terjadi.

Saturday, April 17, 2010

wise up..

kebenaran memang tidak pernah menyenangkan bukan? pada akhirnya, saya bisa melihatnya dengan lebih jelas dan jernih. sedih ketika mengetahuinya, tapi pada akhirnya saya sadar memang beginilah jalannya.

Thursday, March 11, 2010

such things

i







aku





kamu







you













kita







kami








us

the greatest

seseorang akan menjadi pengantin. demikian yang saya baca di lembar hariannya. hell yeah, semua orang sedang bersiapsiap untuk menikah. dia. saya tidak peduli. tanya saya dalam hati kepadanya: "apakah dulu kamu melihat saya? ataukah kamu hanya terintimidasi oleh saya?"

sekali waktu, saya ingin menjadi yang terbaik dalam hidup seseorang. sekali waktu saja. mungkinkah?


Lower me down
Pin me in
Secure the grounds
For the lead
And the dregs of my bed
I've been sleepin'
For the later parade

Once I wanted to be the greatest
No wind of waterfall could stall me
And then came the rush of the flood
Stars of night turned deep to dust

(the greatest, cat power)

jabberwocky...




mendadak saya merasa "hilang" di antara orangorang ini, temanteman saya sendiri. tidak tahu apa yang mereka tertawakan, apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka impikan. mendadak saya merasa betapa tidak pedulinya mereka pada hidup di luar sana tepat pada saat mereka merasa peduli.

mendadak saya merasa lebih baik saya menghadapi jabberwocky seperti alice, daripada harus berhadapan dengan mereka saat ini.

saya hanya berharap saya tidak akan kehilangan rasa percaya saya pada mereka. saya takut jika itu terjadi.

i hope i will never lose my faith in them. i hope..

Friday, February 12, 2010

tentang mulut saya yang berbisa

pagi tadi saya memutuskan untuk bahwa diam adalah cara terbaik untuk mengendalikan mulut saya yang berbisa ini, mengendalikan semua kata-kata beracun yang menyakitkan hati orang-orang yang dekat dengan saya, bahkan manusia undur-undur sekalipun.

pagi tadi pula saya mengirimkan pesan untuk sahabat saya yang saya tahu dia sudah begitu sabar dan memahami saya tapi saya sering menyakitinya dengan kata-kata berbisa yang tidak bisa saya kendalikan dan keluar dari mulut saya ini:

"karena aku ini ular berbisa, semua yang keluar dari mulutku adalah racun dan sudah makan banyak korban, lebih baik kamu tinggalkan aku. aku takut menyakitimu dengan kata-kata yang keluar dari mulutku. you are free to leave. i deserve that."

dan pagi tadi saya belajar untuk diam..

Sunday, January 24, 2010

ondelondel, ongolongol, undurundur: je m'aime, je t'aime, je nous aime...

Manusia undurundur,

Terima kasih untuk beberapa bulan kebersamaan kita ini. Tidak tahu apakah kita masih akan bersama sampai beberapa tahun ke depan atau mungkin saja kita berpisah. Sejuta kata mungkin. Sejuta ketakutan untukku. Kau tahu, aku sangat takut dengan kehilangan. Padahal kehilangan adalah hal yang sangat wajar yang bisa terjadi kapanpun. Seperti katamu, kenapa harus takut, mati hidup, kehilangan, perpisahan, pertemuan adalah siklus. Serahkan semuanya pada hidup.

Aku tahu kau benar. Tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskan apa yang bisa kujadikan pegangan untukku menjalani hidupku. Aku perlu sesuatu untuk membuatku yakin bahwa aku aman dan tidak ditinggalkan. Sesuatu yang belum kukatakan kepadamu secara eksplisit. Sesuatu yang selalu menjadi bahan perdebatan kita tanpa kau tahu kenapa aku selalu mengulangulangnya. Aku harap kau mengerti dengan itu.

Aku sedang belajar. Belajar untuk melepaskan semuanya. Menanggalkan ketakutanku satu demi satu. Membuka cangkang yang menutupi hatiku. Membuka mata lebar dan mencoba menghadapi kenyataan yang ada di depanku. Membiarkan hatiku dipenuhi cinta lagi. Mencintai lagi. Belajar berharap lagi. Kali ini berharap tapi tidak hendak menyandarkan diri padamu. Aku ingin berjalan bersamamu tapi aku tidak mau bergantung padamu. Aku pasti bisa bukan? Menjadi lebih optimis? Kau selalu bilang: kenapa sih dalam kepalamu itu selalu saja hal negatif yang keluar? Kenapa sih isi kepalamu itu selalu berjalan terlalu cepat mendahului kenyataan yang bahkan belum terjadi? Kau kan tidak pernah tahu seperti apa yang ada di depanmu sampai kau mengalaminya sendiri kan? You damn right. I know. Well, itulah aku. Hadapilah. Seperti aku menghadapi keoptimisanmu yang menurutku cenderung semaunya sendiri tanpa aturan itu.

Tidak terbayang di kepalaku bahwa seperti ini memang rasanya hubungan timbal balik. Dua arah. Memberi. Menerima. Bahwa seperti ini mungkin hubungan yang aku inginkan selama ini. Aku harap aku tidak sedang menelan isapan jempol semata. Aku berharap memang inilah yang sedang terjadi di antara kita: sesuatu tumbuh di antara kita. Sesuatu yang positif. Kali ini aku hanya ingin menikmati dan menjalani apa yang ada di antara kita tanpa pikiran apapun. Tanpa pikiran setahun ke depan apakah kita masih bersama atau berpisah. Atau, pikiran kalau kita akan bersama sampai bertahuntahun nanti. Tidak. Aku tidak mau meracuni pikiranku dengan segala macam itu. biarlah semua berjalan sebagaimana adanya. Kemarin, hari ini, besok, lusa aku berusaha menikmatinya.

Sekali lagi hanya kata terima kasih yang bisa kukatakan dan kuberikan. Aku tidak punya kata lain dan tidak punya apaapa selain itu. terima kasih untuk mengajariku lebih optimis dengan hidupku dan memberikan tanganmu untuk kugenggam erat. untuk obrolan ngawur, ngalor ngidul yang selalu berakhir dengan tawa berderaiderai. Untuk programprogram tahun pertama. Untuk rencana program tahun kedua, ketiga dan seterusnya. Untuk bayangan kita sewaktu berjalan kembali dari pantai. Untuk waktu berdua di pantai, bergandengan tangan tanpa malu. Untuk telinga panas memerah dan berdenging karena menelepon berjamjam yang isinya hanya menangis tersedusedu atau tawa berderaiderai atau perdebatan konyol atau sekedar berbagi kangen. Untuk obrolan sambil makan ikan ricarica dan nasi yang keras di warung pinggir jalan. Untuk segelas anggur dan obrolan panjang tentang pernikahan. Untuk sedu sedan tanpa sebab. Untuk sebuah pelukan hangat. Untuk omongan ngawur tentang ibu dari anakanakmu yang lantas membuatku hampir terjungkal dari kursi, bukan karena tersanjung tapi karena tertawa terbahakbahak. untuk sebentuk perasaan disayangi yang tulus, yang kurasakan sangat halus dan dalam. Aku berharap kali ini aku benar. Untuk ini... untuk itu... untuk kita...

Je m’aime. Je t’aime. Je nous aime...


I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
So I love you because I know no other way.
(Pablo Neruda, XVII)



24.01.10 23.46...

Saturday, January 16, 2010

mawar gunung bagian tiga

saya yakin dengan apa yang saya rasakan kepadanya: halus dan dalam. saya simpan dalam hati untuk semuanya ini. saya senang sekali memandangnya di depan saya bercerita tentang kehidupan barunya. begitu cerah.

best wishes for you.. ;)

feeling lonely



saya merasakan kesepian yang tidak terelakkan beberapa hari belakangan ini. mungkin lebih tepatnya bukan beberapa hari ini, tetapi sudah agak lama, atau memang sudah lama sekali. timbul tenggelam. bahkan guyonan manusia undur-undur tidak terlalu bisa meredakannya. benar, saya tertawa terbahak-bahak mendengar suaranya di telepon, tapi belum cukup untuk sekedar menenangkan hati saya.

katanya, hakekatnya kita semua ini memang sendirian, jadi untuk apa terlalu meributkan perasaan kesepian dan sendiri itu. saya tahu itu, tapi saya tetap merasakan itu. selalu seperti ini.

saya kehilangan teman-teman saya. bagian dari diri saya yang tidak pernah bisa diisi kehadiran seorang manusia undur-undur sekalipun. seorang teman baik saya sedang larut dengan pekerjaan barunya dan saya tidak mampu mengatakan kepadanya betapa saya kehilangan saat-saat kami makan di warung kaki lima pinggir jalan sambil bercerita membahas apapun. pun kami bertolak belakang bagaikan dua keping mata uang yang berbeda. saya kangen itu tapi saya tidak mampu hanya sekedar berkata kepadanya bahwa saya kangen kebersamaan kami. saya hanya bisa menepi dan berjalan sendiri.

seorang sahabat saya sedang sibuk dengan dunianya sendiri. rumah baru dan pasangan baru. saya senang sekali dengan hal itu, tapi entahlah saya merasakan perasaan saya kosong kepadanya. saya kangen keberadaan dia di rumah, lengkap dengan semua hal yang bertolak belakang dari kami. saya ingin membagi tangggung jawab dengan dia, tapi sekali lagi saya tidak sanggup mengatakan apapun demi melihat dia sepanjang tahun kemarin depresi berat dan awal tahun ini berbahagia. saya sayang sekali kepadanya, tapi kadang saya merasakan bahwa saya ditinggalkan. perasaan yang sering kali saya tolak, karena saya berpikir tidak mungkin ia melakukan itu pada saya. tapi entahlah, saya merasa diri saya semakin kosong. sering merasa terpojok sendirian. tapi rasa sayang saya padanya besar sekali mengalahkan kekosongan itu. saya senang sekali melihat dia bangkit dari depresinya. saya pasti bisa mengatasi ini.

seorang sahabat dari SMA sibuk dengan keputusan-keputusannya tahun ini: rencana pernikahan, kebingungan-kebingungannya dengan pilihan hidupnya. saya ingin mengobrol panjang dengan dia. di suatu tempat, di suatu waktu hanya untuk kami. mengobrolkan segala hal yang tertunda lama karena kesibukan kami masing-masing. tertawa bersama seperti dulu. saya takut kehilangan dia setelah menikah nanti. masihkah ia bisa meluangkan waktunya hanya untuk sebuah obrolan panjang dengan sahabat lama?

ah, semua pikiran saya ini. pikiran seseorang yang egois mungkin, terlalu takut semuanya diambil dari dirinya. semua orang pasti berubah. prioritas berubah. saya harus siap dengan itu. kehilangan.

malam tadi saya menonton 'see the sea (Francois Ozon)'. saya tahu benar perasaan Sasha. kesepian, menunggu suaminya yang entah kapan pulang. ketika seseorang muncul meski hanya seorang asing, ia menyambutnya dengan suka cita. seorang teman bagi kesendiriannya. seseorang untuk diajak berbicara, bercerita, berbagi pendapat, bahkan untuk hal-hal yang paling remeh sekalipun. saya paham.

sudahlah, teman-teman saya tidak lupa pada saya, mereka hanya terlalu sibuk dengan hidupnya. saya paham.

Sunday, December 6, 2009

for what i am now, trying to be happy ;)

If I was a flower growing wild and free
All I'd want is you to be my sweet honey bee.
And if I was a tree growing tall and green
All I'd want is you to shade me and be my leaves

If I was a flower growing wild and free
All I'd want is you to be my sweet honey bee.
And if I was a tree growing tall and green
All I'd want is you to shade me and be my leaves

All I want is you, will you be my bride
Take me by the hand and stand by my side
All I want is you, will you stay with me?
Hold me in your arms and sway me like the sea.

If you were a river in the mountains tall,
The rumble of your water would be my call.
If you were the winter, I know I'd be the snow
Just as long as you were with me, when the cold winds blow.

All I want is you, will you be my bride
Take me by the hand and stand by my side
All I want is you, will you stay with me?
Hold me in your arms and sway me like the sea.

If you were a wink, I'd be a nod
If you were a seed, well I'd be a pod.
If you were the floor, I'd wanna be the rug
And if you were a kiss, I know I'd be a hug

All I want is you, will you be my bride
Take me by the hand and stand by my side
All I want is you, will you stay with me?
Hold me in your arms and sway me like the sea.

If you were the wood, I'd be the fire.
If you were the love, I'd be the desire.
If you were a castle, I'd be your moat,
And if you were an ocean, I'd learn to float.

All I want is you, will you be my bride
Take me by the hand and stand by my side
All I want is you, will you stay with me?
Hold me in your arms and sway me like the sea.


(all i want is you, barry louis polisar)

Sunday, November 15, 2009

daughter and father

Saya membaca tulisan si ibu paus dalam catatan hariannya bahwa ia sudah berhenti mencintai ayahnya sejak lama. Saya tertawa. Cerita yang sama agaknya. Saya sendiri sudah berhenti mencintai ayah saya sejak usia saya sembilan tahun. Berabad lalu. Dan yang tersisa saat ini adalah bongkahan batu yang saya bawa di punggung dan hati saya kemanapun saya pergi. Sesuatu yang memang menjadi konsekuensi logis dari apa yang saya lakukan: menghentikan segala rasa cinta saya. Membuat jarak dengan segala hal yang berkaitan dengan dirinya.

Saat ini yang tersisa dari hubungan kami hanyalah hubungan berjarak yang hanya saling bertemu setiap akhir pekan tanpa menyapa tapi saling tahu keberadaan kami masing-masing. Saya tidak menyesal dengan itu. Saya sudah mempertimbangkan semuanya. Segala keputusan yang saya ambil. Sekarang biarkan masing-masing dari kami hidup dengan cara kami sendiri. Seperti ini. Jangan coba raih saya lagi. Cukup sampai di sini.



So fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too

(daughter, john mayer)

Saturday, September 26, 2009

untitled

He fills world with fantasy
There is no fence to hold me
My realm the sky, the air, the sea
While his broad arms enfold me.

I swing on the rim of the rainbow
I steal moondust to tint the dawn sky
I fill up my pockets with embryo stars
Stole from my true lover’s eye.

He gave to me Aladdin’s lamp
And polish-cloth so fine
And now I have my wishes three
He’s mine, forever, mine.

So I swing on the rim of the rainbow
Stealing moondust to tint a dawn sky
And I fill all my pockets with embryo stars
Stole from my true lover’s eye
Stole from my true lover’s eye.




:saya dapatkan ini dari sebuah buku yang tidak begitu jelas judulnya untuk saya. saya tidak begitu memperhatikannya. kisah seorang gadis pergi ke kota besar untuk menemukan dirinya dan apa yang ia mau. kisah klasik ya.

untuk perasaan aneh yang saya dapat dan saya bisa jujur mengatakannya serta menjadi diri saya sendiri. lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Wednesday, September 9, 2009

endorfin








menenangkan dan saya pun jatuh tertidur...

sore itu...

Saya sedang berbaring membaca buku. Sebuah pertanyaan dari manusia di sebelah saya membuat saya terbengong. Tidak menyangka bahwa saat seperti ini akan sampai juga kepada saya.

Manusia undurundur:
Jika manusia undurundur itu ada di sampingmu, kamu akan menanyakan apa kepadanya?


Saya belum tersadar sepenuhnya. Diam, tapi mata saya masih terpaku pada hurufhuruf yang ada dalam buku. Konsentrasi saya pecah sudah.

Saya:
Apa?


Saya tidak berani mengalihkan mata saya dari buku yang saya baca. Saya dengar ia tertawa. Tawa yang membuat saya tidak tenang.

Manusia undurundur:
Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kalau manusia undurundur yang ada dalam ceritamu itu ada di sini, kamu mau apa?


Saya terpaksa menurunkan buku saya dan menoleh ke arahnya. Sial! Saya tidak suka udara di sekitar saya. Kenapa begini? Wajah saya panas. Sial! Sekali lagi.

Saya:
Tidak akan tanya apaapa.


Jawaban bodoh. Rutuk saya. Ini pasti menggiring ke arah pertanyaan lain yang akan membuat saya semakin jengah dan terperangkap. Lihat ia tenang sekali.

Manusia undurundur:
Kenapa?


Saya:
Tidak kenapakenapa. Memang tidak akan bertanya saja. Tidak ada yang perlu ditanyakan.


Manusia undurundur:
Aku kok sepertinya kenal dengan manusia yang kamu tulis itu ya? Familiar.


Ya iyalah, batin saya. Mati saya sudah. Ketahuan. Saya tidak berani memandang ke arahnya. Begitu ia melihat mata saya, semua akan terlihat di sana. Mampus saya.

Manusia undurundur:
Itu aku kan?


Saya sudah tidak tahu bagaimana wajah saya. Pencuri yang ketahuan aksinya. Sudah kepalang basah, basah sekalian lah. Dengan wajah dan suara yang ditenangkan saya menjawab.

Saya:
Kok kamu yakin sekali?
(lantas tawa saya pecah, terbahak)

Manusia undurundur:
Terasa saja. Itu aku kan?


Saya tidak menjawabnya. Saya hanya tertawa. Tawa sudah cukup bukan untuk menjawab pertanyaan itu? Semua sudah jelas. Saya memandangnya dan ia memandang saya.

Sore itu …

08.09.09 23.42…

Sunday, August 23, 2009

.......

Still alive?

Do you miss me?

Well, you got the answer already ;p


Untuk rasa rindu kepada seseorang yang tidak berwujud. This longing…

23.08.09, 21.30…

Saturday, August 22, 2009

afternoon song

Though your wicked eyebrows call
Your nature into question
(Unangelic's their suggestion,
Witch whose eyes enthrall)

I adore you still
O foolish terrible emotion
Kneeling in devotion
As a priest to his idol will.

Your undone braids conceal
Desert, forest scents,
In your exotic countenance
Lie secrets unrevealed.

Over your flesh perfume drifts
Like incense 'round a censor,
Tantalizing dispenser
Of evening's ardent gifts.

No Philtres could compete
With your potent idleness:
You've mastered the caress
That raises dead me to their feet.

Your hips themselves are romanced
By your back and by your breasts:
By your languid dalliance.

Now and then, your appetite's
Uncontrolled, unassuaged:
Mysteriously enraged,
You kiss me and you bite.

Dark one, I am torn
By your savage ways,
Then, soft as the moon, your gaze
Sees my tortured heart reborn.

Beneath your satin shoe,
Beneath your charming silken foot.
My greatest joy I put
My genius and destiny, too.

You bring my spirit back,
Bringer of the light.
Exploding color in the night
Of my Siberia so black.

(Charles Baudelaire)

been there...





it's easy to leave than to be left behind
Leaving was never my proud
Leaving New York never easy
I saw the light fading out

(soundtrack: Leaving New York-REM)



saya menemukan ini di blog tante rambut ungu. tulisantulisannya dua tahun lalu. betapa waktu telah berjalan dengan cepat dan meninggalkan jejak untuknya. jejak yang saya yakin membuat dia menjadi dewasa dan mencapai titik ini. jejak yang juga saya punya di dua tahun yang lalu. di dua tahun lalu. betapa pendeknya waktu, betapa dalamnya jejak yang ditinggalkan...

dua tahun lalu..., leaving behind was never easy..

tante rambut ungu, senang berjumpa denganmu di titik ini...

Friday, August 21, 2009

bagaimana jika....

bagaimana jika saya masih ada di tempat itu?
bagaimana jika saya tidak pernah mengambil keputusan ini?
bagaimana jika saya tidak pernah melakukan itu?
bagaimana jika saya tidak pernah mencintainya?
bagaimana jika saya tidak mempedulikannya sejak awal kami bertemu?
bagaimana jika saya tidak mau membuka hati saya kepada orang lain?
bagaimana jika semua perkataan orang tentang saya itu ternyata benar?
bagaimana jika semua ini berakhir?
bagaimana jika saya menemukan orang yang saya cari?
bagaimana jika saya sendirian sampai nanti?
bagaimana jika saya berjalan ke dalam laut seperti yang sering saya pikirkan itu?
bagaimana jika hidup saya berakhir?
bagaimana jika semua yang saya miliki lenyap?
bagaimana jika saya tidak pernah ada di sana saat itu?
bagaimana jika saya tidak menemukan diri saya?
bagaimana jika saya .....

bagaimana jika....

bagaimana jika....

sejuta hujan badai bagaimana jika ada di kepala...


bagaimana jika......

Tuesday, August 18, 2009