Sunday, November 15, 2009

daughter and father

Saya membaca tulisan si ibu paus dalam catatan hariannya bahwa ia sudah berhenti mencintai ayahnya sejak lama. Saya tertawa. Cerita yang sama agaknya. Saya sendiri sudah berhenti mencintai ayah saya sejak usia saya sembilan tahun. Berabad lalu. Dan yang tersisa saat ini adalah bongkahan batu yang saya bawa di punggung dan hati saya kemanapun saya pergi. Sesuatu yang memang menjadi konsekuensi logis dari apa yang saya lakukan: menghentikan segala rasa cinta saya. Membuat jarak dengan segala hal yang berkaitan dengan dirinya.

Saat ini yang tersisa dari hubungan kami hanyalah hubungan berjarak yang hanya saling bertemu setiap akhir pekan tanpa menyapa tapi saling tahu keberadaan kami masing-masing. Saya tidak menyesal dengan itu. Saya sudah mempertimbangkan semuanya. Segala keputusan yang saya ambil. Sekarang biarkan masing-masing dari kami hidup dengan cara kami sendiri. Seperti ini. Jangan coba raih saya lagi. Cukup sampai di sini.



So fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too

(daughter, john mayer)

Saturday, September 26, 2009

untitled

He fills world with fantasy
There is no fence to hold me
My realm the sky, the air, the sea
While his broad arms enfold me.

I swing on the rim of the rainbow
I steal moondust to tint the dawn sky
I fill up my pockets with embryo stars
Stole from my true lover’s eye.

He gave to me Aladdin’s lamp
And polish-cloth so fine
And now I have my wishes three
He’s mine, forever, mine.

So I swing on the rim of the rainbow
Stealing moondust to tint a dawn sky
And I fill all my pockets with embryo stars
Stole from my true lover’s eye
Stole from my true lover’s eye.




:saya dapatkan ini dari sebuah buku yang tidak begitu jelas judulnya untuk saya. saya tidak begitu memperhatikannya. kisah seorang gadis pergi ke kota besar untuk menemukan dirinya dan apa yang ia mau. kisah klasik ya.

untuk perasaan aneh yang saya dapat dan saya bisa jujur mengatakannya serta menjadi diri saya sendiri. lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Wednesday, September 9, 2009

endorfin








menenangkan dan saya pun jatuh tertidur...

sore itu...

Saya sedang berbaring membaca buku. Sebuah pertanyaan dari manusia di sebelah saya membuat saya terbengong. Tidak menyangka bahwa saat seperti ini akan sampai juga kepada saya.

Manusia undurundur:
Jika manusia undurundur itu ada di sampingmu, kamu akan menanyakan apa kepadanya?


Saya belum tersadar sepenuhnya. Diam, tapi mata saya masih terpaku pada hurufhuruf yang ada dalam buku. Konsentrasi saya pecah sudah.

Saya:
Apa?


Saya tidak berani mengalihkan mata saya dari buku yang saya baca. Saya dengar ia tertawa. Tawa yang membuat saya tidak tenang.

Manusia undurundur:
Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Kalau manusia undurundur yang ada dalam ceritamu itu ada di sini, kamu mau apa?


Saya terpaksa menurunkan buku saya dan menoleh ke arahnya. Sial! Saya tidak suka udara di sekitar saya. Kenapa begini? Wajah saya panas. Sial! Sekali lagi.

Saya:
Tidak akan tanya apaapa.


Jawaban bodoh. Rutuk saya. Ini pasti menggiring ke arah pertanyaan lain yang akan membuat saya semakin jengah dan terperangkap. Lihat ia tenang sekali.

Manusia undurundur:
Kenapa?


Saya:
Tidak kenapakenapa. Memang tidak akan bertanya saja. Tidak ada yang perlu ditanyakan.


Manusia undurundur:
Aku kok sepertinya kenal dengan manusia yang kamu tulis itu ya? Familiar.


Ya iyalah, batin saya. Mati saya sudah. Ketahuan. Saya tidak berani memandang ke arahnya. Begitu ia melihat mata saya, semua akan terlihat di sana. Mampus saya.

Manusia undurundur:
Itu aku kan?


Saya sudah tidak tahu bagaimana wajah saya. Pencuri yang ketahuan aksinya. Sudah kepalang basah, basah sekalian lah. Dengan wajah dan suara yang ditenangkan saya menjawab.

Saya:
Kok kamu yakin sekali?
(lantas tawa saya pecah, terbahak)

Manusia undurundur:
Terasa saja. Itu aku kan?


Saya tidak menjawabnya. Saya hanya tertawa. Tawa sudah cukup bukan untuk menjawab pertanyaan itu? Semua sudah jelas. Saya memandangnya dan ia memandang saya.

Sore itu …

08.09.09 23.42…

Sunday, August 23, 2009

.......

Still alive?

Do you miss me?

Well, you got the answer already ;p


Untuk rasa rindu kepada seseorang yang tidak berwujud. This longing…

23.08.09, 21.30…

Saturday, August 22, 2009

afternoon song

Though your wicked eyebrows call
Your nature into question
(Unangelic's their suggestion,
Witch whose eyes enthrall)

I adore you still
O foolish terrible emotion
Kneeling in devotion
As a priest to his idol will.

Your undone braids conceal
Desert, forest scents,
In your exotic countenance
Lie secrets unrevealed.

Over your flesh perfume drifts
Like incense 'round a censor,
Tantalizing dispenser
Of evening's ardent gifts.

No Philtres could compete
With your potent idleness:
You've mastered the caress
That raises dead me to their feet.

Your hips themselves are romanced
By your back and by your breasts:
By your languid dalliance.

Now and then, your appetite's
Uncontrolled, unassuaged:
Mysteriously enraged,
You kiss me and you bite.

Dark one, I am torn
By your savage ways,
Then, soft as the moon, your gaze
Sees my tortured heart reborn.

Beneath your satin shoe,
Beneath your charming silken foot.
My greatest joy I put
My genius and destiny, too.

You bring my spirit back,
Bringer of the light.
Exploding color in the night
Of my Siberia so black.

(Charles Baudelaire)

been there...





it's easy to leave than to be left behind
Leaving was never my proud
Leaving New York never easy
I saw the light fading out

(soundtrack: Leaving New York-REM)



saya menemukan ini di blog tante rambut ungu. tulisantulisannya dua tahun lalu. betapa waktu telah berjalan dengan cepat dan meninggalkan jejak untuknya. jejak yang saya yakin membuat dia menjadi dewasa dan mencapai titik ini. jejak yang juga saya punya di dua tahun yang lalu. di dua tahun lalu. betapa pendeknya waktu, betapa dalamnya jejak yang ditinggalkan...

dua tahun lalu..., leaving behind was never easy..

tante rambut ungu, senang berjumpa denganmu di titik ini...