Saturday, September 27, 2008

little tin soldier


Angkasa tanpa pesan merengkuh semakin dalam
Berselimut debu waktu kumenanti cemas
Kau datang dengan sederhana
Satu bintang dilangit kelam
Sinarmu rimba pesona dan kutahu tlah tersesat
Kukejar kau takkan bertepi
Menggapaimu takkan bersambut
Sendiri membendung rasa ini
Sementara kau membeku
Khayalku terbuai jauh
Pelita kecilmu mengalir pelan dan aku terbenam
Redup kilaumu tak mengarah
Jadilah diriku selatan
Namun tak kau sadari hingga kini dan nanti


(satu bintang di langit kelam, RSD)





saya langsung terpelanting jauh demi mendengar lagu ini. kemudian teringat cerita dari blog sebelah. seorang yang benarbenar merindukan seorang kawan hidup agaknya. perbincangan seperti ini memang tidak pernah terasa manis. selalu getir yang tertinggal di mulut, di ingatan, di hati. seperti halnya prajurit timah dalam cerita andersen itu, demikian halnya saya. menatap sang balerina, kemudian menatap api di perapian, menatap ruangan sekeliling saya. melihat hati saya sendiri. memang, selalu berkaitan dengan hati tidak pernah mudah. tidak pernah mekanis. tidak pernah menjadi serta merta otomatis. sedari dulu memang saya berusaha belajar untuk itu. untuk tidak menjadi mekanis, meski untuk itu selalu ada yang dipertaruhkan.


hati saya...




1 comment:

Anonymous said...

kadang ada "hati lain" yang patut juga kita pikirkan, karena sesungguhnya, hati kita tak akan sanggup mengatakan 'tak peduli' pada "hati lain" itu